Serigalatimur.com.||Polres Brebes menetapkan 9 guru ASN sebagai tersangka manipulasi presensi elektronik, mereka berinisial AH (41), DB (38),FFR(40), RTH(39), NK (41), AM (35),SEP(35),SDK(33),dan LS(38).
Kapolres Brebes AKBP Lilik Ardiansyah menjelaskan kasus ini bermula dari laporan BKPSDMD Kabupaten Brebes setelah ditemukan presensi dari ilegal pada 29-30 April 2026.
Plot twist-nya lebih seru dari demo pro MBG vs mahasiswa.
Diduga, AH membuat aplikasi bernama Person. Namanya sederhana, kerjanya luar biasa, bukan mengantar manusia ke bulan, melainkan mengantar titik koordinat ke sekolah. Badannya masih ngopi di teras rumah,GPS sudah hormat di halaman kantor.
Kalau aplikasi ini terus dikembangkan, mungkin nanti bisa membuat orang piknik ke Raja Ampat, tetapi koordinatnya tetap sedang mengajar matematika. Yang lebih lucu lagi, ini bukan aksi Solo, ada yang membuat rekening penampung hasil penjualan aplikasi ada yang memasarkan lewat grup WA, dan ada mengedarkan, ada memakai lengkap, sudah seperti perusahaan rintisan.Bedanya,startup lain mencari investor, yang ini malah mendapat penyidik.
Kasat Reskrim AKP Farid Nur Aziz mengatakan seluruh tersangka, ASN di sekolah berbeda dan telah ditahan di rutan kelas 2B Brebes sejak 27 juni 2026.
Barang bukti diamankan juga lengkap. Rekap data presensi ASN diduga memakai aplikasi ilegal, satu laptop, sejumlah telepon seluler, dokumen rekening koran, hingga laporan transaksi perbankan.
Ini perkara absensi, tapi barang buktinya terasa seperti membongkar kartel digital.
Para tersangka dijerat pasal 333 huruf h junto pasal 20 huruf c, terancam satu tahun penjara, Padahal awal persoalannya cuma satu,Datang kerja.
“Yang bikin publik makin geleng-geleng, sebelumnya sekda provinsi Jawa Tengah Sumarno mengungkapkan sekitar 3000 ASN di lingkungan Pemkab Brebes memanipulasi presensi. Sanksinya pun disiapkan, mulai dari teguran hingga penurunan pangkat.
Tiga ribu orang, kalau semua benar-benar hadir sesuai GPS, halaman kantor mungkin penuh sesak, tapi kalau yang hadir cuma koordinatnya, berarti yang rajin bekerja sebenarnya bukan ASN melainkan satelit.
Beginilah ironi zaman digital teknologi dibuat agar manusia lebih jujur. Manusia justru berlomba menjadi lebih kreatif dalam berbohong, server terus diperbarui aplikasi makin canggih, tetapi akal bulus menginstal pembaruan lebih cepat, semestinya guru-guru tersebut menjadi contoh terhadap seluruh siswa didiknya, akan tetapi malah sebaliknya, memberikan contoh yang tidak baik.(Yusuf N)












